ngidam gw sejauh ini masih fine2 aja, yang sering minta ya makanan yang hangat yang selalu bisa gw makan enak tanpa mikirin nantinya bakal gimana2.
kan makan gw jauh lebih sering, kalo udah ngemil kadang suka juga tuh mualnya keluar. selalu pengen ga ngerepotin orang2, termasuk suami gw tapii trisemester pertama ini bener2 gw kayak boneka yang harus duduk manis tanpa ngelakuin apa-apa, bukannya dimanja tapi katanya emang lagi riskan. ya sudah di turuti aja yaa.. ^_^
sebel nya kalo suami udah ada bargain alias tawar-menawar. kalo lagi pengen ini ditawar itu sedemikian rupa supaya jadi ini , kan jadinya kesel minta ampun. malah nih kayak kemaren, udah bela2in pulang nae angkot *padahal ada anteran pulang, demi sebuah sate padang deket rumah - eeehh dalam perjalanan pulang di otak gw tercipta tuh makanan gorengan garing risol yang belum gw coba dan cuma ada di deket kantor, baaahh... ngeselin kan? mana udah sampe rumah eeh alhasil rasa sate padang yang udah gw idam2kan nihil sama sekali. ckckckck...
ga tau kenapa ya rasanya kesel kalo yang gw mau ditawar, padahal gw juga sadar maksudnya baik. cumaaa gw lebih milih suami bilang "yaudah kita cari aja besok, sapa tau ketemu" its better degh
sampe sekarang gw masih bisa menetralisir keinginan ngidam gw dan sejauh ini sih gw kepengen sesuatu karena gw pengen makan enak dan tenang. kalo udah mual otak gw muter cari cara 'makanan apa yang enak dan bisa gw makan' dan kadang terlintas beberapa makanan yang emang udah gw makan dan terbukti bisa ngilangin mual nya. tapi ternyata ga semua makanan yang udah gw note bisa ngilangin mual gw, masih sama rasanya kayak pertama gw makan. entah itu rasanya berkurang kelezatannya atau rasanya beda aja.
yang sampe saaat ini bisa buat mual gw ditekan yaitu susu prenagen emessis, rasa vanilanya enak banget... ilang dgeh *sementara, mual gw ^_^
tapi bener ga sih kalo kita ngidam trus ga terlaksana "katanya" si anak ileran??
cek degh kebenarannya ;
Menurut dr. Judi Januadi Endjun, Sp.OG, Sonologist, ngidam diartikan sebagai keinginan akan sesuatu, yang timbul secara tak terduga dan memiliki dorongan kuat untuk segera dipenuhi.
"Umumnya keinginan itu menyangkut makanan dan minuman. Namun bisa saja menyangkut sesuatu yang tak wajar dan dapat membahayakan ibu hamil." Misal, ngidam ingin makan tanah. Nah, sudah ketahuan, kan, apa bahayanya. Tanah dapat mengandung kuman-kuman penyakit (misal, toksoplasma) atau zat beracun (misal, limbah atau insektisida). "Bila hal tersebut terjadi, jangan tunda lagi segera hubungi dokter. Selain karena kekurangan nutrien tertentu, ngidam diduga keras terjadi karena ada perubahan kadar hormon pada wanita hamil. Keadaan ini sering terjadi bersamaan masa terjadinya mual dan muntah (emesis gravidarum) akibat hormon Human Chorionic Gonadothropine (HCG).
"HCG sedang tinggi-tingginya saat kehamilan 60 hari atau 2 bulan dan menurun dengan sendirinya setelah kehamilan 4 bulan ke atas. Makanya, saat itu mual-muntah akan hilang." Itu sebabnya, ngidam hanya bersifat sementara. Tapi, pada keadaan tertentu, bisa saja berlangsung selama 9 bulan. "Biasanya terjadi karena ada masalah psikologi."
Penyebab berikutnya, karena kekurangan makanan terutama pada mereka yang melakukan program diet ketat dan tak terkontrol. Rangsang bau pun sering menjadi penyebab. Misal, bau roti bakar, cokelat, atau bensin. "Hal ini dimungkinkan karena perubahan hormon. Akibatnya indra penciuman jadi sensitif."
Cara mengatasi
Bila ibu mengalaminya, tentu jangan dibiarkan begitu saja. Apalagi jika hal-hal yang diinginkan di luar batas kewajaran atau bahkan membahayakan kesehatan ibu dan janin. Cara terbaik mengatasi ngidam, terang Judi, dengan mengganti makan makanan lainnya agar ibu tak memakan yang itu-itu saja. "Ya, kalau ngidamnya makanan yang 4 sehat 5 sempurna, sih, tak masalah. Nah, kalau ngidamnya makanan yang tak bergizi, bagaimana ia bisa memenuhi zat gizi yang dibutuhkan bagi dirinya dan janin?" Misal, keinginan makan permen cokelat dapat diganti dengan minum susu cokelat. Yang penting makanan mengandung unsur-unsur seimbang (4 sehat 5 sempurna).
Cara kedua, tetaplah makan makanan yang diinginkan, tapi jumlahnya secara bertahap dikurangi. Misal, ingin makan es krim satu liter dapat diganti dengan satu cup kecil es krim. Dengan demikian, ibu tetap bisa memperoleh makanan yang diinginkannya, tapi juga tak mengabaikan makanan lain yang harus tetap dikonsumsinya untuk terpenuhinya zat-zat gizi. Sebaliknya, ibu jangan terlalu menolak/membatasi makanan tertentu karena bisa mengakibatkan kekurangan zat gizi tertentu yang mungkin akan membahayakan ibu dan janin.
Tak kalah penting, kendalikan emosi. "Segera cari faktor penyebab dan atasi." Bila tak dapat diatasi sendiri, lakukan konsultasi untuk konseling atau psikoterapi. Sebab, semakin bermasalah faktor emosinya, biasanya semakin sering ngidam.
Tak perlu takut ngilersumber : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/04/17/12254791/Ngidam.Tak.Dipenuhi.Bayi.Bakal.Ngiler
Mitos bahwa ibu-ibu yang tak keturutan saat ngidam nanti bayinya akan ngiler, hal ini dibantah baik Enny maupun Judi. "Bayi, mana, sih, yang saat lahir tidak ngiler? Semua bayi, toh, akan ngiler," tukas Enny.
Tapi tentu tidak tepat jika keinginan ngidam selalu dikaitkan dengan bayi. "Bayinya tak apa-apa, kok, kecuali kalau memang ngidamnya karena kekurangan zat-zat tertentu dan zat-zat ini tak terpenuhi selama kehamilan, maka memang akan berdampak ke janinnya. Misal, janinnya mengalami malnutrisi," tutur Judi.
Jadi, Bu, tak usah takut, bayinya jadi ngiler, ya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar